CampusNet – Inovasi Undip dalam mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar cair menjadi salah satu upaya perguruan tinggi untuk membantu mengatasi persoalan sampah. Melalui mesin pirolisis Dipofuel Generasi Ketiga (Gen 3), Universitas Diponegoro mengembangkan teknologi yang mampu mengolah hingga 200 kilogram plastik dalam satu kali produksi.
Teknologi ini dikembangkan oleh tim peneliti yang dipimpin Prof. Ir. Didi Dwi Anggoro, dosen Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Undip. Dipofuel Gen 3 dirancang untuk mengurangi timbunan sampah plastik sekaligus mengubahnya menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Mengenal Inovasi Undip Dipofuel Gen 3
Mesin Dipofuel Gen 3 bekerja menggunakan proses pirolisis, yaitu pemanasan limbah plastik tanpa oksigen di dalam reaktor tertutup. Melalui proses tersebut, plastik dapat diubah menjadi bahan bakar cair, gas bakar, serta residu padat yang berpotensi dimanfaatkan lebih lanjut.
Kapasitas mesin ini terus mengalami peningkatan sejak pertama kali dikembangkan. Prototipe awal hanya mampu mengolah 5 kilogram plastik, kemudian meningkat menjadi 100 kilogram pada generasi kedua. Kini, Dipofuel Gen 3 mampu memproses hingga 200 kilogram plastik dalam satu kali produksi.
Proses pengolahan membutuhkan waktu sekitar 4 – 8 jam. Dari proses tersebut, hasil yang diperoleh diperkirakan terdiri dari 60 persen bahan bakar cair, 20 persen gas bakar, dan 20 persen residu padat atau wax.
Untuk mendukung proses pengolahan, mesin ini dilengkapi reaktor berkapasitas 1.000 liter, sistem pemanas berbahan bakar biomassa, serta panel kontrol suhu dan tekanan. Tim peneliti juga menyempurnakan sistem kondensasi bertingkat agar hasil bahan bakar cair lebih optimal.
Dimanfaatkan untuk Kebutuhan Masyarakat
Inovasi Limbah Plastik Undip ini tidak hanya dikembangkan untuk menghasilkan bahan bakar alternatif, tetapi juga untuk membantu mengatasi persoalan sampah plastik. Menurut Prof. Didi, tujuan utama pengembangan Dipofuel adalah menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Teknologi tersebut telah digunakan oleh masyarakat petani di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, untuk mendukung pengoperasian pompa irigasi. Pemanfaatan ini menjadi salah satu contoh penerapan hasil riset kampus dalam menjawab kebutuhan di lingkungan masyarakat.
Selain itu, sejumlah pihak, termasuk lembaga pemasyarakatan, pondok pesantren di Jawa Timur, dan pihak pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Sulawesi Selatan, telah menunjukkan ketertarikan untuk menjajaki potensi kerja sama pengolahan limbah.
Meski demikian, penerapan teknologi ini dalam skala yang lebih luas masih membutuhkan dukungan pemerintah, kesiapan sumber daya manusia, serta pemenuhan regulasi dan perizinan.
Berpeluang Dikembangkan Lebih Luas
Dipofuel Gen 3 diperkenalkan dalam rangkaian pameran Dies Natalis ke-69 Undip di Muladi Dome, Kampus Undip Tembalang, Semarang. Setelah rangkaian kegiatan tersebut selesai, mesin ini direncanakan mulai digunakan di lingkungan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Undip.
Ke depannya, tim peneliti berharap teknologi ini dapat diterapkan mulai dari skala kelurahan hingga dikembangkan untuk kebutuhan yang lebih besar. Dengan pengembangan dan dukungan yang tepat, inovasi tersebut berpotensi menjadi salah satu alternatif dalam pengelolaan limbah plastik.
Inovasi Limbah Plastik Undip ini menunjukkan bagaimana riset perguruan tinggi dapat dikembangkan menjadi teknologi yang memiliki manfaat praktis bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya penanganan sampah.
Kesimpulan
Dengan kapasitas pengolahan yang terus dikembangkan, Dipofuel Gen 3 menjadi salah satu contoh inovasi kampus yang berpotensi membantu mengurangi limbah plastik sekaligus menghasilkan bahan bakar alternatif. Keberhasilan penerapannya di masyarakat diharapkan dapat mendorong pengembangan teknologi serupa di berbagai daerah, sehingga pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada pengurangan limbah, tetapi juga menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

