Inovasi Mahasiswa UB, Kulit Pisang Jadi Deterjen Cleanso

CampusNet – Kulit pisang yang biasanya dibuang setelah buahnya dikonsumsi ternyata dapat dimanfaatkan menjadi produk rumah tangga. Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan Cleanso, inovasi deterjen cair berbahan dasar ekstrak kulit pisang yang dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K).

Inovasi deterjen kulit pisang ini menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam meningkatkan nilai guna limbah organik sekaligus mengembangkan produk yang lebih ramah lingkungan.

Inovasi Deterjen Kulit Pisang dari Mahasiswa UB

Cleanso dikembangkan sebagai alternatif deterjen cair dengan memanfaatkan bahan yang selama ini kerap dianggap tidak berguna. Melalui inovasi ini, mahasiswa UB berupaya mengolah limbah kulit pisang menjadi produk rumah tangga yang memiliki nilai ekonomi.

Pengembangan Cleanso tidak hanya berfokus pada pemanfaatan bahan baku, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan produk dalam membersihkan pakaian. Salah satu komponen yang digunakan dalam formulasi produk adalah enzim lipase yang berperan dalam mendukung proses pembersihan.

Inovasi tersebut memperlihatkan bagaimana kreativitas mahasiswa dapat menghasilkan produk yang menggabungkan pemanfaatan limbah organik dengan peluang kewirausahaan.

Proses Pembuatan Deterjen Cair Cleanso

Dalam proses pengembangannya, tim mahasiswa UB melalui beberapa tahapan sebelum Cleanso siap digunakan. Tahap pertama adalah mengekstrak kulit pisang untuk memperoleh bahan yang akan digunakan dalam pembuatan deterjen cair.

Selanjutnya, tim menyusun formulasi dengan mempertimbangkan berbagai komponen pendukung. Setelah produk selesai dibuat, pengujian karakteristik dilakukan untuk mengevaluasi kestabilan dan menentukan bagian yang masih perlu disempurnakan.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya perubahan karakteristik produk selama penyimpanan. Karena itu, tim masih melakukan optimalisasi formulasi agar Cleanso memiliki kestabilan yang lebih baik.

Tahapan tersebut menunjukkan bahwa menciptakan produk inovatif tidak berhenti pada penemuan ide, tetapi juga membutuhkan pengujian dan pengembangan secara berkelanjutan.

Cleanso Mulai Dipasarkan

Selain mengembangkan produk, tim mahasiswa UB juga menyiapkan strategi pemasaran melalui penjualan secara langsung maupun daring. Cleanso mulai diluncurkan pada pekan ketiga Agustus 2026 dengan target penjualan awal sebanyak 25 botol.

Pada tahap awal pemasaran, tim mengumpulkan tanggapan konsumen mengenai pengalaman penggunaan produk, termasuk aroma, tekstur, kemampuan membersihkan, dan harga. Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas produk sekaligus menentukan strategi pemasaran selanjutnya.

Langkah ini memperlihatkan bahwa program kewirausahaan mahasiswa dapat menjadi ruang untuk menguji ide sekaligus mempelajari proses membangun usaha dari tahap pengembangan hingga pemasaran.

Inovasi Mahasiswa untuk Mengurangi Limbah

Kehadiran Cleanso menunjukkan bahwa limbah yang sering diabaikan masih memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bermanfaat. Melalui riset dan kreativitas, mahasiswa dapat menghadirkan inovasi yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih optimal.

Meski demikian, pengembangan lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan kestabilan dan kualitas produk. Inovasi deterjen kulit pisang ini menjadi contoh bahwa ide sederhana dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan produk yang berpotensi dikembangkan secara berkelanjutan.

Baca Juga: SIMORA, Inovasi Mahasiswa Universitas Pakuan Ubah Sampah Jadi Bernilai Lewat IoT dan Maggot

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *