CampusNet – Saat masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) tiba, ekspektasi romantis kerap bermunculan, baik dari narasi sosial media atau dari lingkungan sekitar. Bayangan seperti membangun desa, bonding dengan warga, dan bahkan romansa yang bersemi di KKN menjadi motivasi tersendiri bagi mahasiswa.
Namun, kisah indah tersebut dibentur dengan realita di lapangan. Saat menjalani rentang waktu KKN, mahasiswa kadang dihadapi dengan kebingungan mencari program kerja (proker) demi mengisi waktu kosong. Sering kali, ujung dari kebingungan ini berujung pada proyek klise seperti pembuatan tempat sampah atau mengecat pelang nama jalan.
Realita ini menimbulkan rasa kekecewaan. Mahasiswa yang sudah semangat akan berbagai romantisasi yang sudah diekspektasikan, justru pulang membawa kelelahan akibat sistem yang tidak berjalan semestinya.
Ilusi “Proker” dan Mengejar Checklist Administratif
KKN pada akhirnya biasa terjebak dalam sekadar checklist secara administratif. Tanggung jawab untuk menjalankan proker lebih difokuskan dibanding mencari dampak yang diberikan kepada warga. Sering kali, proker yang dirancang tidak relevan dengan kebutuhan asli desa, sehingga dieksekusi dengan dalih “yang penting ada kegiatan”.
Hal ini tidak sepenuhnya karena checklist administratif. Realitasnya, proker yang di eksekusi sangat bergantung dari dana mahasiswa sendiri. Untuk membuat program kerja yang benar-benar memberikan dampak signifikan, mahasiswa harus menyesuaikan rencana dengan keterbatasan budget dan sumber daya kelompok.
Proyek Mangkrak dan Masalah Keberlanjutan
Dengan keterbatasan sumber daya tersebut, proker yang ditinggalkan umumnya tidak mempunyai aspek keberlanjutan (sustainability). Setelah rombongan mahasiswa kembali ke kampus, kebanyakan proyek-proyek fisik maupun non-fisik tersebut mati pelan-pelan tanpa ada kelanjutan.
Faktor utama dari fenomena “proyek mangkrak” ini adalah minimnya partisipasi aktif warga sejak tahap perencanaan, sehingga tidak tumbuhnya rasa kepemilikan dari warga desa terhadap program tersebut.
Hal ini menjadi pertanyaan: Apakah KKN saat ini hanya sekedar formalitas? Jika tujuan utamanya adalah pengabdian nyata, lantas mengapa proyek tersebut dibiarkan terbengkalai tanpa ada mekanisme follow up dari kampus ke desa.
Evaluasi Sistem untuk Kampus
Masalah keberlanjutan dan keterbatasan sumber daya yang dipunyai mahasiswa bukanlah kesalahan tunggal mahasiswa. Sistem kampus yang hanya menyediakan KKN dengan rentang waktu 1-2 bulan sangat tidak realistis untuk menciptakan perubahan nyata di sebuah desa. Waktu yang singkat ini memaksa mahasiswa mengambil jalan pintas dengan membuat proker instan.
Selain itu, kampus kurang memberikan pemetaan potensi desa yang akurat sebelum menerjunkan mahasiswa. Penempatan di desa yang secara infrastruktur sudah maju, atau pembagian kelompok yang latar belakang keilmuannya tidak sesuai dengan isu di desa membuat ruang gerak pengabdian menjadi sangat sempit.
Kesimpulan
Untuk mengembalikan tujuan dasar KKN sebagai pengabdian nyata, kampus perlu menawarkan solusi struktural. Seperti mengubah orientasi dari pembangunan infrastruktur fisik (yang memakan dana besar dan biaya perawatan) menjadi pemberdayaan kapasitas masyarakat melalui edukasi digital atau pelatihan UMKM.
Mahasiswa KKN bukan seseorang yang membagikan hadiah lalu pergi begitu saja. Mereka adalah fasilitator yang memantik kemandirian desa. Dengan perbaikan sistem dari kampus dan perancangan proker yang relevan oleh mahasiswa, dapat dipastikan bahwa KKN benar menjadi pengabdian nyata untuk desa.
Baca juga: https://campusnet.news/kkn-kebangsaan-kesempatan-langka-mahasiswa-bisa-belajar-dari-geopark/

