CampusNet – Mahasiswa Timur Tengah rela menempuh perjalanan panjang juga mengeluarkan biaya besar demi bisa mudik Lebaran ke kampung halaman. Simak alasan mereka yang memilih mudik dan juga memberi kesempatan bertemu teman lama. Menjalin silaturahmi, menghadiri kajian, bahkan sharing ilmu di tanah air lho.
Tradisi Mudik Lebaran Mahasiswa Timur Tengah, Merajut Rindu di Tanah Air
Mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Timur Tengah selalu menantikan momen mudik Lebaran. Belajar di Mesir, Arab Saudi, Turki, Yaman, dan Maroko berusaha pulang ke tanah air setelah menjalani bulan Ramadhan di perantauan. Kerinduan terhadap keluarga dan kampung halaman mendorong mereka untuk menempuh perjalanan panjang demi bisa merayakan Idul Fitri bersama orang-orang terkasih.
Mudik yang Tak Selalu Mudah
Mahasiswa Timur Tengah tidak hanya menghadapi tantangan biaya, tetapi juga urusan administrasi. Beberapa negara memberlakukan aturan ketat terkait izin keluar-masuk bagi mahasiswa asing. Mereka harus mengurus visa, izin tinggal, dan dokumen perjalanan lainnya sebelum bisa kembali ke Indonesia.
Sebagian mahasiswa yang tidak bisa mudik karena keterbatasan biaya atau tuntutan akademik tetap merayakan Lebaran di perantauan. Mereka menggelar salat Id berjamaah, berkumpul dengan komunitas mahasiswa Indonesia. Selain itu, mengadakan acara makan bersama untuk mengobati rasa rindu terhadap kampung halaman.
Momen Kebersamaan yang Berharga
Mahasiswa yang berhasil mudik memanfaatkan waktu Lebaran untuk berkumpul bersama keluarga. Setelah berbulan-bulan jauh dari orang tua, mereka berbagi cerita tentang kehidupan di negeri rantau. Seperti mengenalkan budaya negara tempat mereka belajar, serta membawa oleh-oleh khas dari sana.
Selain bersilaturahmi dengan keluarga, mahasiswa menghadiri berbagai acara pertemuan, seperti reuni alumni pesantren atau kajian bersama ulama di tanah air. Sebagian dari mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk berbagi ilmu dengan masyarakat, mengisi ceramah, atau mengajar di masjid-masjid setempat
Tradisi mudik mahasiswa Timur Tengah bukan sekadar perjalanan pulang kampung, melainkan perjalanan spiritual yang penuh makna. Mereka merajut kembali kebersamaan dengan keluarga, memperkuat ikatan dengan tanah air. Serta membawa semangat baru untuk kembali menuntut ilmu di negeri para Nabi.
Sebab mahasiswa Timur Tengah pulang saat Lebaran dengan membawa harapan, ilmu, dan semangat baru. Doa dan restu keluarga menjadi bekal berharga yang menguatkan langkah mereka.