CampusNet – Dalam kehidupan kampus, kita sering mendengar berbagai “tipe” mahasiswa. Seperti mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang), kura-kura (kuliah-rapat), kunang-kunang (kuliah-nangkring). Setiap stereotipe tersebut mempunyai justifikasinya masing-masing, seperti mahasiswa yang lebih memilih fokus akademik, mencari pengalaman organisasi, maupun pengembangan personal.
Namun, apapun jalan yang dipilih, seorang mahasiswa harus “melek” akan kebijakan-kebijakan politik. Karena kebijakan ini akan memengaruhi kehidupan perkuliahan hingga masa depan mereka kelak.
Politik Lebih Dekat dari yang Kita Kira
Secara umum, politik sering dipahami sebagai “permainan” para pejabat atau partai politik. Namun, definisi politik sendiri proses pengambilan keputusan kolektif untuk mengatur masayarakat dan merumuskan kebijakan publik.
Politik sendiri sangat berpengaruh ke kehidupan sehari-hari, baik sebagai mahasiswa ataupun masyarakat umum. Contohnya pada kebijakan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang turut menuai kritik keras karena besarnya anggaran serta ribuan kasus keracunan pada siswa karena kurangnya pengawasan.
Tidak hanya politik dalam negeri, konflik politik luar negeri juga berpengaruh ke masyarakat. Seperti pada konflik geopolitik AS-Iran. Jika tidak melek politik, mungkin akan berpikir bahwa konflik internasional yang tidak melibatkan kita tidak akan berpengaruh ke kita. Kenyataannya, jika ditelaah lebih dalam, konflik tersebut berpengaruh pada fluktuasi harga kebutuhan pokok masyarakat bahkan berpotensi ke kenaikan harga BBM.
Mahasiswa sebagai Agent of Change
Melihat dampak tersebut, mahasiswa tentunya mempunyai peran strategis. Mahasiswa tidak hanya seorang pelajar, tetapi mahasiswa juga merupakan seorang agent of change (agen perubahan). Sebagai agen perubahan, mahasiswa mempunyai peran krusial untuk mendorong perubahan positif, inovasi, dan perbaikan sosial masyarakat.
Dengan akses mudahnya terhadap ilmu pengetahuan, sangat disayangkan jika mahasiswa yang mempunyai daya nalar kritis hanya diam melihat ketimpangan dinamika politik. Maka dari itu, diperlukan mahasiswa untuk menjadi agen perubahan dengan aksi dan edukasi nyata untuk masyarakat.
Contoh nyata mahasiswa sebagai agen perubahan dapat dilihat pada reformasi 1998. Demonstrasi yang menyuarakan kritik-kritik akan kepemimpinan Soeharto dan keinginan untuk pemerintahan yang pro-demokrasi berhasil menurunkan kepemimpinan Presiden Soeharto.
Tidak hanya demonstrasi, aksi perubahan juga dapat dilakukan memanfaatkan media digital (digital activism). Dalam masa digital, mahasiswa dapat menggunakan media sosialnya untuk terus menyuarakan isu-isu yang terjadi agar tetap menjadi perhatian publik.
Kesimpulan
Mahasiswa bukanlah hanya seorang pelajar, tetapi juga seseorang yang mempunyai privilise intelektual yang menuntut tanggung jawab lebih. Berbagai kebijakan politik yang cacat membutuhkan nalar kritis untuk diluruskan. Dari situ lah seorang mahasiswa mempunyai peran.
Hal-hal kecil dapat dilakukan, seperti dengan membaca satu berita politik ataupun berdiskusi soal kebijakan pemerintah. Dari pemahaman sederhana tersebut, perlahan akan membentuk pemikiran kritis yang dapat bermuara pada pengabdian, riset, aktivisme digital, hingga demonstrasi turun ke jalan.
Baca juga : Mengapa Keputusan Sehari-hari Kini Kian Bernuansa Politik

