Dari Bengkalis untuk Selat Malaka, Mahasiswa Polbeng Rancang Kapal Penjaga Perbatasan dan Sabet Tiga Gelar

Tiga tim mahasiswa Politeknik Negeri Bengkalis (Polbeng) pulang membawa tiga penghargaan sekaligus dari babak final Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2026 yang berlangsung di Bengkalis, Riau. Ketiganya bersaing di kategori berbeda dan masing-masing menghadirkan pendekatan yang tidak sekadar memenuhi kebutuhan kompetisi.

Ide di balik kapal-kapal tersebut berangkat dari persoalan nyata di perairan tempat mereka tinggal.

Kapal Cepat untuk Mengejar Penyelundup di Selat Malaka

Tim Laksamana 10 meraih Best Design kategori Fuel Engine Remote Control (FERC) dengan merancang kapal yang mengutamakan kecepatan. Konsepnya lahir dari keresahan terhadap kondisi perairan Bengkalis yang berada tepat di kawasan Selat Malaka.

Muhamad Wahyu Ramadhan, perwakilan tim, mengatakan ide tersebut berangkat dari banyaknya aktivitas penyelundupan yang terjadi di perairan sekitar Bengkalis.

“Banyak kapal yang secara ilegal menyelundupkan barang-barang terlarang, jadi kami ingin menciptakan kapal yang bisa menjaga daerah Bengkalis dari ancaman itu,” ujar Wahyu.

Tim memulai persiapan dua hingga tiga bulan sebelum kompetisi dengan meriset berbagai referensi kapal sejenis sebelum mengembangkan konsep mereka sendiri.

Kapal Listrik yang Hemat Energi dan Ramah Lingkungan

Tim Laksamana 1 meraih Best Design kategori Electric Remote Control (ERC) dengan pendekatan yang berbeda. Mereka mengedepankan efisiensi energi dan konsep yang lebih ramah lingkungan dalam desain kapal listrik mereka.

Ketua Tim Laksamana 1, Muhammad Alfayed, menyebut perhatian terhadap detail menjadi prioritas utama sepanjang proses pengerjaan.

“Pengecatan itu ada prosesnya, tidak bisa dilakukan sekali jadi. Kalau ada lecet, harus diperbaiki lagi,” jelas Alfayed.

Material Khusus untuk Menekan Hambatan Kapal

Tim Laksamana 3 meraih Juara 3 kategori Inovasi Desain dan Konstruksi (IDK) lewat rancangan kapal yang memanfaatkan material dan komponen khusus untuk menekan hambatan saat bergerak di air.

M. Kenzie Bravo, anggota tim, menjelaskan mereka memanfaatkan axbow, interceptor, dan material HDPE dalam rancangan tersebut. Kombinasi ketiganya menghasilkan kapal yang lebih efisien secara hidrodinamis.

Tiga Tim, Tiga Pendekatan

Ketiganya memperlihatkan bahwa inovasi di bidang perkapalan tidak harus datang dari satu arah. Tim Laksamana 10 menjawab persoalan keamanan maritim, Laksamana 1 mengeksplorasi efisiensi energi, dan Laksamana 3 mendalami aspek material dan konstruksi.

Prestasi ini sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa politeknik dari daerah perbatasan mampu menghadirkan solusi yang relevan dengan tantangan nyata di sekitar mereka.

Baca juga: Smart Wheelchair Inovasi Mahasiswa UMY: Solusi Mobilitas Berbasis Gerakan Mata untuk Penyandang Lumpuh Total

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *