Tim Peneliti ITS Kembangkan Baterai Ramah Lingkungan dari Air Laut dan Aluminium Lokal Bernama AluBayu

CampusNet – Di tengah dorongan global menuju transisi energi terbarukan, inovasi teknologi penyimpanan energi menjadi kunci utama. Tim peneliti dari Laboratorium Elektrokimia dan Korosi, Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil menjawab tantangan tersebut dengan mengembangkan prototipe baterai isi ulang berbasis air laut dan aluminium lokal yang diberi nama AluBayu. Inovasi baterai hydro-aluminium ini dirancang sebagai solusi penyimpanan energi yang aman, berkelanjutan, serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-7 mengenai Energi Bersih dan Terjangkau.

Memanfaatkan Biomassa dan Sumber Daya Lokal

Ketua tim peneliti ITS, Prof. Dr. Ir. Heru Setyawan, M.E., menjelaskan bahwa pengembangan AluBayu mengoptimalkan potensi bahan baku lokal dan biomassa Indonesia. Baterai aluminium-udara berbasis air ini mengusung teknologi dual-hydrogel system dengan susunan komponen yang memanfaatkan sumber daya alam secara maksimal. Pada bagian anoda atau kutub negatif, baterai ini memanfaatkan logam aluminium lokal. Sementara itu, elektrolit padat dibuat menggunakan gel polymer electrolyte dari serat sabut kelapa. Untuk elektrolit cairnya, tim memanfaatkan kandungan natrium klorida (NaCl) alami dari air laut, sedangkan bagian katoda atau kutub positif disusun dari kombinasi nikel dan besi untuk memfasilitasi reaksi kimia.

Keunggulan Teknologi Dual-Hydrogel pada AluBayu

Inovasi utama dari AluBayu terletak pada penggunaan sistem elektrolit ganda berperekat padat. Sistem ini memisahkan jenis elektrolit pada kutub anoda dan katoda secara presisi. Prof. Heru Setyawan menyampaikan bahwa pemanfaatan dua jenis elektrolit yang berbeda tersebut berfungsi untuk mengoptimalkan reaksi kimia antara logam aluminium dan oksigen dari udara. Melalui mekanisme pemisahan ini, efisiensi reaksi elektrokimia dapat ditingkatkan secara signifikan sekaligus meminimalkan risiko korosi dini pada logam anoda.

Spesifikasi Teknis dan Kapasitas Baterai

Dari segi desain fisik dan kinerja teknis, AluBayu dirancang agar efisien dan praktis. Satu modul prototipe AluBayu terdiri dari 20 sel berukuran kompak dengan dimensi 4 × 6 cm. Keseluruhan modul ini memiliki bobot yang sangat ringan, yaitu sekitar 20,2 gram. Dalam hal performa listrik, modul AluBayu mampu menghasilkan tegangan nominal sebesar 11,6 volt dengan nilai arus dan daya eksisting berada di kisaran 0,15 mA. Dengan karakteristik yang ringan dan ringkas ini, baterai AluBayu dinilai memiliki prospek utilitas yang sangat tinggi, khususnya sebagai perangkat penunjang daya dalam kondisi darurat.

Dukungan PT Pertamina (Persero) dan Rencana Hilirisasi

Pengembangan strategis AluBayu mendapatkan dukungan pendanaan langsung dari PT Pertamina (Persero) sebagai wujud komitmen bersama terhadap kemandirian teknologi nasional. Senior Specialist Technology Innovation Downstream dan New Energy PT Pertamina (Persero), Haryo Satria, menyatakan bahwa keunggulan AluBayu yang berbobot ringan serta berbasis bahan ramah lingkungan sangat potensial untuk terus dikembangkan lebih jauh.

Sebagai langkah perbaikan dan komersialisasi, prototipe AluBayu kemudian diboyong ke Jakarta untuk dikaji lebih dalam bersama pihak manajemen Pertamina. Evaluasi ini difokuskan untuk mengatasi beberapa catatan teknis, seperti meningkatkan daya tahan baterai agar lebih stabil, sebelum akhirnya melangkah ke tahap hilirisasi dan komersialisasi industri secara luas.

Baca juga: Manfaatkan Energi Bersih, UNISSULA Kembangkan Inovasi Mobil Listrik Ramah Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok