CampusNet – Pada Senin 13 April 2026, nilai tukar rupiah mencapai rekor terlemah sepanjang masa mencapai Rp17.128 per dolar AS, melemah 70 poin atau 0,08 persen dari penutupan di hari Jum’at yang sejalan yang berada di level Rp. 17.118.
Sebelumnya, rekor terendah rupiah tercatat pada krisis moneter 1998 yang mencapai Rp16.800 per dolar AS.
Nilai Mata Uang Asia juga memiliki tren yang sama. Nilai Ringgit yang berkurang 0.27%, dolar Singapur berkurang 0.19%. Won Korsel berkurang 0.20%, dan Yen jepang berkurang 0.14%
Tekanan Geopolitik Timur Tengah
Menurut analis Doo Financial Futures Lukman Leong, tekanan rupiah dipicu oleh tekanan konflik Timur Tengah. Hal ini didukung dengan pernyataan Presiden AS Trump, yang terus mengancam akan menyerang industri energi Iran.
Dalam jangka waktu tersebut, Rupiah diperkirakan masih akan tertekan dan berpotensi menembus level baru di atas IDR 17.150 jika tensi geopolitik tidak mereda.
Respons Pemerintah Indonesia
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartato merespons dengan membandingkan performa mata uang negara lain terutama asia yang juga melemah.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menyampaikan bahwa BI akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter yang dimiliki untuk menjaga stabilitas rupiah.
Bank Indonesia menilai bahwa konflik Timur Tengah dapat memberi efek positif, karena Indonesia adalah eksportir komoditas, Bank Indonesia akan mencoba menyeimbangkan tekanan eksternal dengan potensi keuntungan ekspor.
Dampak Melemahnya Nilai Tukar Rupiah
Tentunya, melemahnya Rupiah akan berpengaruh ke Masyarakat dan dunia usaha. Harga barang impor terutama kebutuhan pokok dan barang konsumsi akan naik, yang berpotensi untuk menurunkan daya beli Masyarakat sehingga menimbulkan inflasi bertahap.
Tidak hanya ke Masyarakat, Pemerintah dan Perusahaan juga turut berdampak akan melemahnya rupiah. Beban utang yang dimiliki menjadi lebih mahal, sehingga memungkinkan sektor Bank untuk menaikkan suku bunga demi menstabilkan rupiah.

