Sejarah Museum Dewantara Kirti Griya, Jejak Peninggalan Pahlawan Pendidikan

CampusNet – Perjalanan sejarah pendidikan di Indonesia tak lepas dari sosok Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 yang juga ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Dedikasinya dalam dunia pendidikan masih dapat dipelajari hingga kini, salah satunya melalui Museum Dewantara Kirti Griya yang berada di Yogyakarta.

Museum ini bukan sekadar tempat wisata sejarah, tetapi juga menjadi ruang belajar yang menyimpan berbagai peninggalan penting tokoh pelopor pendidikan nasional tersebut. Dilansir dari laman resmi Kementerian Kebudayaan dan Kemendikdasmen BPMP Provinsi DI. Yogyakarta, berikut rangkumannya.

Lokasi dan Latar Belakang Museum Dewantara Kirti Griya

Museum Dewantara Kirti Griya terletak di Jalan Taman Siswa, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta. Bangunan ini dulunya merupakan rumah pribadi Ki Hajar Dewantara yang dibangun pada tahun 1915 dengan gaya arsitektur indis, yaitu perpaduan Eropa dan Jawa.

Rumah ini kemudian dibeli oleh Perguruan Tamansiswa pada 14 Agustus 1934 dan selanjutnya dihibahkan kepada Yayasan Persatuan Tamansiswa pada tahun 1951. Sejak saat itu, bangunan ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi dalam perjalanan pendidikan nasional.

Gagasan Awal Pendirian Museum

Keinginan untuk menjadikan rumah tersebut sebagai museum sebenarnya sudah muncul sejak masa hidup Ki Hajar Dewantara. Pada tahun 1958, ia mencetuskan gagasan agar kediamannya dijadikan tempat penyimpanan nilai-nilai perjuangan dan pemikirannya di bidang pendidikan.

Tak lama kemudian, beliau wafat pada 26 April 1959. Gagasan tersebut kemudian dilanjutkan oleh keluarga dan lingkungan Tamansiswa.

Pada tahun 1963, dibentuk panitia pendiri museum yang terdiri dari keluarga Ki Hadjar Dewantara, Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, sejarawan, serta keluarga besar Tamansiswa. Namun, realisasi museum sempat mengalami kendala dan belum terwujud hingga akhir 1960-an.

Peresmian Museum Dewantara Kirti Griya

Titik penting terjadi pada 11 Oktober 1969 ketika Ki Nayono menerima surat dari Nyi Hadjar Dewantara. Surat tersebut mendorong percepatan pendirian museum di bekas rumah Ki Hadjar Dewantara.

Akhirnya, pada 2 Mei 1970 yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, museum ini resmi dibuka untuk umum.

Nama “Dewantara Kirti Griya” diberikan oleh seorang ahli bahasa Jawa, Hadiwidjono, dengan makna:

  • Dewantara: merujuk pada Ki Hadjar Dewantara
  • Kirti: karya atau hasil kerja
  • Griya: rumah

Sehingga, nama tersebut berarti rumah yang berisi hasil karya Ki Hadjar Dewantara.

Peresmian ditandai dengan sengkalan “Miyat Ngaluhur Trusing Budi” yang melambangkan tanggal berdirinya museum, sekaligus mengandung harapan agar pengunjung dapat meneladani nilai-nilai perjuangan beliau.

Arsitektur dan Bagian Bangunan

Bangunan museum ini menghadap ke arah barat dan memiliki bentuk atap limasan di bagian depan serta atap kampung di bagian belakang. Secara keseluruhan, bangunan terdiri dari sembilan bagian utama, antara lain:

  • Ruang tamu
  • Ruang kerja
  • Ruang tengah
  • Kamar tidur keluarga
  • Kamar tidur Ki Hadjar Dewantara
  • Kamar tidur putri
  • Emperan
  • Kamar mandi
  • Dapur

Penetapan sebagai Cagar Budaya

Sebagai bangunan bersejarah, Museum Dewantara Kirti Griya telah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2015.

Penetapan ini menegaskan pentingnya museum sebagai warisan budaya dan sumber pembelajaran bagi generasi mendatang.

Koleksi Museum Dewantara Kirti Griya

Museum ini menyimpan berbagai koleksi berharga yang berkaitan dengan kehidupan dan perjuangan Ki Hajar Dewantara, di antaranya:

1. Surat-Surat Penting

Terdapat ratusan surat bersejarah, termasuk surat penangkapan tokoh “Tiga Serangkai” serta berbagai dokumen penting lainnya yang menjadi saksi perjuangan di masa penjajahan.

2. Perlengkapan Rumah Tangga

Berbagai perabot asli seperti meja tulis, tempat tidur, radio, hingga telepon kuno masih tersimpan dengan baik dan mencerminkan kehidupan masa lampau.

3. Foto dan Film Dokumenter

Museum juga menyimpan dokumentasi visual, termasuk film tentang Ki Hajar Dewantara yang diproduksi pada tahun 1960.

4. Koleksi Buku

Terdapat ribuan buku dengan tema pendidikan, budaya, politik, hingga sastra daerah dalam berbagai bahasa, menjadikan museum ini sebagai sumber literasi yang kaya.

Keberadaan Museum Dewantara Kirti Griya tidak hanya sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga sebagai sarana edukasi. Museum ini menjadi ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami nilai perjuangan, pendidikan, dan kebudayaan.

Konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara seperti Trikon (kontinuitas, konvergensi, dan konsentrisitas) juga menjadi bagian penting yang dapat dipelajari di sini.

Museum Dewantara Kirti Griya merupakan bukti nyata perjalanan panjang sejarah pendidikan di Indonesia. Melalui museum ini, generasi muda dapat mengenal lebih dekat sosok Ki Hajar Dewantara sekaligus meneladani nilai-nilai perjuangannya.

Mengunjungi museum ini bukan hanya sekadar wisata sejarah, tetapi juga langkah untuk memahami akar pendidikan bangsa dan membangun masa depan yang lebih baik.

Baca juga: 4 Hal Produktif Yang Bisa Dilakukan Setelah UTBK Selesai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok