CampusNet – Belum lama ini mungkin kita sering mendengar istilah ‘bed rotting’, yang cukup ramai dikalangan gen Z. Istilah ini merujuk pada kegiatan rebahan di kasur sambil scrolling di medsos selama berjam-jam tanpa melakukan kegiatan lain.
Di mata kebanyakan orang, mungkin bed rotting hanyalah sebuah bentuk kemalasan. Namun, beberapa pakar kesehatan mental memiliki pandangan lain mengenai fenomena ini (Health.com, 2024).
Menurut para pakar, bed rotting yang dilakukan secara jangka pendek merupakan kegiatan positif yang dapat menghilangkan rasa lelah akibat aktivitas. Namun sebaliknya, jika dilakukan dalam jangka panjang bisa jadi dikarenakan burnout, depresi atau stress yang menumpuk.
Orang yang bed rotting dalam jangka waktu yang lama, umumnya akan meninggalkan aktifitas mereka sehari-hari. Dikarenakan, tidak adanya energi dan rendahnya mood untuk menjalankannya yang diakibatkan depresi atau masalah mental lainnya.
Bed rotting menawarkan aktifitas nyaman yang low effort, membuat mereka semakin jatuh dalam lubang kelinci fenomena ini. Meskipun, bed rotting akan memperparah keadaan mental mereka.
Karena mereka tidak mendapatkan stimulasi apapun selain dari layar handphone selama berjam-jam. Bed rotting dalam jangka panjang ini tidak seharusnya sekedar dianggap sebagai bentuk kemalasan, namun sebuah tanda seseorang membutuhkan pertolongan.
Orang-orang yang bed rotting akibat masalah mental, tidak bisa begitu saja kembali ke rutinitas normal dalam sekejap. Karena normalitas bagi orang dengan mental sehat akan berbeda dengan orang depresi.
Kita juga tidak bisa membiarkan mereka terus melakukan bed rotting, dengan alasan keputusan untuk berubah ada di tangan mereka. Karena gangguan mental, membutuhkan bantuan profesional untuk disembuhkan.

