Mengapa Judi Online Sulit untuk Diberantas?

CampusNet – Judi online terus menjamur meskipun pemerintah sudah memberikan larangan. Tapi sebenarnya banyak faktor kompleks yang membuat kejahatan digital ini sulit untuk diberantas dari negeri kita..

Para pelaku pembentuk situs judi online memanfaatkan teknologi modern untuk melakukan kejahatan digital mereka, serta lemahnya pertahanan siber suatu negara, sehingga mereka dengan mudah berpindah server ke berbagai negara.

Platform judi online kerap berganti domain dan aplikasi setiap hari, untuk menghindari jangkauan pihak berwajib. Membuat petugas sering ketinggalan informasi karena perubahan yang terjadi sangat cepat tanpa pola yang jelas.

Transaksi keuangan pun sering memanfaatkan mata uang kripto seperti Bitcoin dan e-wallet anonim, sebagai sistem untuk menyembunyikan aliran uang sehingga bank dan otoritas keuangan kesulitan melacak siapa pengirim serta penerimanya.

Para pemain juga merasa dilindungi oleh rasa aman dari rumah mereka sendiri. Mereka tidak perlu datang ke tempat-tempat seperti kasino legal, yang mana harus terbang keluar negeri terlebih dahulu.

Faktor ekonomi negara juga memperparah situasi pemberantasan judi online ini. Banyak agen mendapat untung besar dari komisi referral setiap hari. Membuat mereka kemudian merekrut lebih banyak orang menjadi pemain baru dan rantai setan ini terus berputar tanpa henti setiap saat.

Ditambah kurangnya literasi digital di masyarakat juga menjadi penghambat serius pemberantasan. Banyak orang tidak bisa membedakan situs judi dengan game biasa.

Penegak hukum kerap menghadapi kendala yurisdiksi yang sangat rumit dalam setiap kasus. Karena situs judi selalu mendaftarkan server mereka di luar negeri seperti Kamboja atau Filipina.

Kolaborasi internasional pun mutlak diperlukan untuk memberantas kasus ini namun sulit untuk diwujudkan, karena setiap negara memiliki kebijakan dan prioritas pemberantasan yang berbeda-beda.

Edukasi kepada masyarakat tentang bahaya judi online juga masih belum berjalan masif. Padahal pencegahan dari hulu terbukti lebih efektif daripada penindakan di hilir saja.

Untuk itu kkita harus mengakui bahwa memblokir situs saja tidak pernah cukup untuk memberantas judi online. Diperlukan pendekatan lintas sektor mulai dari pendidikan, perbankan, hingga kerja sama internasional. Juga selain itu, kesadaran kolektif dari masyarakat juga berperan penting untuk memutus rantai kejahatan ini secara perlahan namun pasti dari akarnya.

Baca Juga: BEM Nusantara Dukung Langkah Komdigi Berantas Judi Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok