Smart Wheelchair Inovasi Mahasiswa UMY: Solusi Mobilitas Berbasis Gerakan Mata untuk Penyandang Lumpuh Total

Inovasi teknologi kesehatan ramah penyandang disabilitas kembali lahir dari panggung perguruan tinggi Indonesia. Tim mahasiswa lintas disiplin dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil mengembangkan Assistive Smart Wheelchair, sebuah kursi roda pintar yang dirancang khusus untuk membantu mobilitas penderita kelumpuhan total atau quadriplegia.

Melalui pemanfaatan teknologi Electrooculography (EOG), perangkat ini memungkinkan penggunanya mengoperasikan arah pergerakan kursi roda hanya dengan menggunakan sinyal gerak dan kedipan mata.

Mekanisme Kendali Berbasis Sinyal Elektrookulografi dan Fitur Keamanan

Pengembangan Smart Wheelchair karya mahasiswa UMY ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan alat bantu mobilitas konvensional yang umumnya masih mengandalkan tuas kontrol (joystick) atau dorongan manual. Keterbatasan tersebut dinilai kurang efektif bagi penderita kelumpuhan total dari bagian leher hingga kaki.

Melalui sistem EOG yang dikembangkan, sensor akan mendeteksi aktivitas kelistrikan otot di sekitar mata saat pengguna melirik ke arah tertentu atau mengedipkan mata. Arah pandangan dan kedipan inilah yang diterjemahkan menjadi perintah navigasi untuk melaju, berbelok, atau berhenti. Untuk menjaga keselamatan pengguna, sistem kendali juga dibekali jeda waktu pemrosesan agar pergerakan kursi roda tetap terukur dan terhindar dari akselerasi mendadak.

Integrasi Pemantauan Medis Real-Time dan Navigasi GPS

Selain sistem navigasi mandiri, kursi roda cerdas ini dilengkapi dengan fitur keselamatan komprehensif yang terhubung langsung ke aplikasi pemantau pada smartphone. Perangkat ini terintegrasi dengan Google Maps untuk memantau lokasi keberadaan pengguna secara presisi saat bepergian. Tak kalah penting, fitur pemantauan kesehatan bawaan pada sistem akan mengukur detak jantung pengguna secara berkesinambungan.

Apabila sistem mendeteksi lonjakan detak jantung hingga mencapai 120 beats per minute (BPM)—yang mengindikasikan kondisi pemicu panik atau darurat medis—motor penggerak kursi roda akan mati secara otomatis untuk mencegah potensi kecelakaan.

Sinergi Multidisiplin dan Harapan Komersialisasi Alat Medis

Keberhasilan proyek teknologi asistif ini merupakan buah dari kolaborasi lintas disiplin ilmu di UMY, yang menggabungkan keahlian mahasiswa dari program studi Teknologi Elektro-Medis, Teknik Elektro, serta Ilmu Keperawatan.

Berawal dari riset tugas kuliah yang dikembangkan lebih lanjut melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC), tim pengembang berharap inovasi Smart Wheelchair ini dapat terus disempurnakan hingga memasuki tahap pengujian klinis dan komersialisasi industri. Kehadiran alat ini diharapkan mampu memberikan kemandirian serta meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas berat di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *