Biji Hanjeli Jadi Kopi Bebas Kafein, Farmasi UI Bantu UMKM Sukabumi Siap Masuk Pasar

Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) melanjutkan program pengabdian masyarakat di Kabupaten Sukabumi, kali ini dengan fokus yang berbeda dari sebelumnya. Jika tahap awal berhasil mengolah biji hanjeli menjadi minuman berkhasiat bercita rasa kopi alami yang bebas kafein dan bebas gluten, tahap lanjutan yang berlangsung pada 11 hingga 12 September 2026 ini menyasar pengembangan kemasan dan identitas visual produk.

Program ini merupakan bagian dari upaya hilirisasi kopi hanjeli agar siap bersaing di pasar, bukan sekadar berhenti sebagai hasil riset di laboratorium.

Dari Riset ke Rak Toko

Hanjeli (Coix lacryma-jobi L.) merupakan tanaman biji-bijian lokal yang selama ini belum banyak dimanfaatkan secara optimal. FFUI melihat potensi besar di dalamnya dan mulai mengembangkan produk minuman berbasis hanjeli yang tidak hanya sehat, tetapi juga memiliki cita rasa yang familiar bagi konsumen.

Ketua program, Prof. Dr. apt. Berna Elya, M.Si., menyebut pengembangan produk tidak bisa berhenti pada menghasilkan minuman olahan saja.

“Pengembangan produk tidak berhenti pada menghasilkan minuman olahan dari hanjeli, tetapi juga bagaimana produk tersebut memiliki identitas dan daya tarik sehingga dapat diterima oleh konsumen. Kemasan menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut,” ujar Prof. Berna.

Kemasan yang Dirancang Bersama Masyarakat

Tim FFUI tidak merancang kemasan sendiri di balik meja. Mereka bekerja bersama komunitas petani, pelaku UMKM, dan masyarakat Desa Wisata Hanjeli menggunakan pendekatan living lab, di mana desain kemasan terus disempurnakan berdasarkan masukan langsung dari mitra lapangan.

Proses iterasi tersebut menghasilkan rancangan kemasan yang merepresentasikan karakter kopi hanjeli sebagai produk pangan lokal Sukabumi. Branding awal mencakup nama, logo, dan desain kemasan yang dirancang untuk mendukung kesiapan produk memasuki segmen pasar oleh-oleh dan kafe.

Masyarakat Bukan Sekadar Penerima Manfaat

Yang membedakan program ini dari pengabdian masyarakat biasa adalah posisi mitra yang bukan sekadar penerima hasil riset. FFUI menempatkan petani dan UMKM sebagai aktor yang memiliki kapasitas mengembangkan dan mengelola produk hanjeli secara mandiri ke depannya.

Prof. Berna berharap program ini membuka mata masyarakat terhadap potensi komoditas lokal.

“Kami berharap masyarakat dan UMKM dapat melihat bahwa komoditas lokal memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih bernilai dan berdaya saing,” ujarnya.

Ke Mana Kopi Hanjeli Ini Akan Melangkah?

Tahapan program masih berlanjut. Kemasan akan diselaraskan dengan standar produksi dan kebutuhan pasar, sebelum kopi hanjeli resmi dipasarkan sebagai produk unggulan daerah. Dua model usaha sedang disiapkan, yaitu konsep Café Kopi Hanjeli dan pemasaran produk sebagai oleh-oleh khas Sukabumi.

Melalui program ini, UI menegaskan bahwa peran perguruan tinggi tidak berhenti di publikasi ilmiah, melainkan sampai pada produk nyata yang bisa masyarakat pegang dan gunakan.

Baca juga: Mahasiswa UMS Bikin Inovasi Yoghurt Ekstrak Daun Pakis Bikin Bernama Yogreen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *