Terjebak Ilusi Produktif: Fenomena FOMO Sertifikat Kepanitiaan di Kalangan Mahasiswa

CampusNet – Menjelang akhir semester, ada satu fenomena klasik yang kerap melanda mahasiswa: linimasa LinkedIn yang mendadak penuh dengan flexing pengalaman volunteer, hinggastory Instagram yang dibanjiri deretan unggahan kegiatan kepanitiaan.

Fenomena ini tanpa disadari memicu timbulnya Fear of Missing Out (FOMO). Banyak mahasiswa merasa insecure atau tertinggal jika CV-nya terlihat kosong. Alhasil, tidak sedikit yang nekat mendaftar tiga hingga lima kepanitiaan sekaligus dalam satu semester. Namun, hal ini memunculkan satu pertanyaan kritis: apakah memborong kepanitiaan sebanyak itu benar-benar efektif?

Ilusi Produktivitas dan Jebakan ‘Burnout

Realitanya, memaksakan diri untuk mengikuti terlalu banyak acara sering kali hanya berujung pada jebakan burnout (kelelahan mental dan fisik). Tumpukan job desc yang harus dipertanggungjawabkan, waktu yang tersita, hingga uang yang dikeluarkan sering kali tidak sepadan dengan value atau ilmu yang didapatkan.

Niat awalnya tentu baik, yakni untuk tetap produktif dan menambah jam terbang. Namun, jika pada akhirnya kewajiban perkuliahan malah dikorbankan, esensi dari produktivitas itu sendiri menjadi hilang. Ujung-ujungnya, karena fokus yang terpecah belah, kontribusi di masing-masing kepanitiaan hanya menjadi seadanya. Banyak kasus di mana mahasiswa akhirnya hanya “numpang nama” atau bekerja bare minimum asalkan sertifikat tetap turun di akhir acara.

Kualitas vs Kuantitas di Mata HRD

Banyak yang keliru mengira bahwa deretan panjang pengalaman kepanitiaan di CV akan otomatis memukau rekruter. Faktanya, di dunia kerja profesional, rekruter atau HRD tidak sekadar menghitung kuantitas kegiatan, melainkan mencari impact (dampak) dan skills (keterampilan) yang relevan.

Satu pengalaman menjadi koordinator divisi yang terbukti berhasil memecahkan masalah krisis dana acara jauh lebih bernilai di mata HRD, dibandingkan dengan sepuluh pengalaman menjadi staf biasa tanpa kontribusi yang jelas. Tentu, semua orang memulai langkahnya dari posisi staf. Namun, alangkah baiknya jika pengalaman tersebut dijadikan evaluasi dan batu loncatan untuk naik level menjadi koordinator yang memiliki kewenangan untuk memberikan dampak yang lebih besar.

Cara Cerdas Memilih Kepanitiaan

Sebagai solusi, mahasiswa harus mulai lebih selektif. Pilihlah satu atau dua kegiatan yang memang selaras dengan tujuan karier atau skill yang ingin diasah. Misalnya, jika kamu memiliki minat di bidang digital marketing, kamu bisa mendaftar di divisi Publikasi, Dekorasi, dan Dokumentasi (PDD). Atau, jika kamu ingin mengasah kemampuan negosiasi dengan pihak eksternal, divisi Humas atau Sponsorship adalah pilihan yang tepat.

Ingatlah selalu bahwa organisasi dan kepanitiaan adalah tempat untuk belajar, bukan sekadar pabrik pencetak selembar sertifikat. Hal yang paling berharga untuk “dijual” di CV kamu nantinya adalah apa kontribusi nyata yang kamu berikan ke acara tersebut, bukan sekadar eksistensi nama di lembar keputusan (SK) panitia.

Kesimpulan

Aktif mengambil peran dalam kepanitiaan merupakan nilai plus yang luar biasa bagi mahasiswa. Pengalaman berinteraksi, memecahkan masalah, dan bekerja sama dengan tim adalah soft skill fundamental yang pasti terpakai di dunia kerja.

Meski begitu, jangan sampai terjebak dalam ilusi produktivitas dengan memborong banyak kepanitiaan secara membabi buta. Cukup ambil satu atau dua acara, lalu maksimalkan fokus pada divisi yang benar-benar kamu minati. Berhentilah menjadi “pemburu sertifikat”, karena pada akhirnya rekruter akan memilih kualitas kontribusimu, bukan kuantitas acaramu.

Baca juga: Ingin Bergabung Organisasi Kampus? Kenali Dulu 8 Ciri Organisasi Red Flag

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok