Inovasi UNS, Kembangkan APD dan Filtrasi Udara Portabel untuk Korban Karhutla

CampusNet – Inovasi UNS dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hadir melalui pengembangan alat pelindung diri (APD) dan filtrasi udara portabel. Teknologi ini dirancang untuk membantu melindungi petugas serta masyarakat dari paparan kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan, khususnya sistem pernapasan dan mata.

Tim peneliti Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengembangkan kedua perangkat tersebut dengan memanfaatkan teknologi tepat guna dan bahan yang relatif mudah ditemukan. Inovasi ini dipimpin oleh Dr. Darmawan Ismail dari Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskuler Fakultas Kedokteran UNS bersama tim lintas disiplin.

APD untuk Melindungi Mata dan Saluran Pernapasan

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah APD yang dirancang untuk membantu melindungi mata dan saluran pernapasan dari paparan asap karhutla. Kedua bagian tubuh tersebut rentan terpapar partikel berbahaya ketika seseorang beraktivitas di lingkungan yang dipenuhi kabut asap.

Perangkat ini dilengkapi pelindung wajah atau face shield serta sistem filtrasi udara bertingkat. Sistem penyaringnya menggunakan spons dengan struktur anyaman khusus agar aliran udara berbelok ketika melewati pori-pori, sehingga peluang partikel terperangkap dapat meningkat.

Tim peneliti juga memanfaatkan gel berbahan dasar deterjen untuk membantu menangkap partikel melalui prinsip adhesi dan kohesi. Selain itu, terdapat kipas mikro bertenaga baterai yang membantu mengalirkan udara ke dalam perangkat dan mengeluarkan udara yang diembuskan pengguna.

Teknologi ini awalnya dikembangkan pada masa pandemi COVID-19. Selanjutnya, tim melakukan modifikasi agar perangkat tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan petugas pemadam kebakaran, relawan lapangan, dan aparat yang bertugas menangani karhutla.

Filtrasi Udara Portabel dari Bahan Sederhana

Selain APD, UNS mengembangkan alat filtrasi udara portabel atau portable air filter yang menggunakan bahan sederhana, seperti botol plastik bekas, spons, kasa medis, filter AC, selang elastis, dan masker.

Alat ini memiliki tiga bagian utama, yaitu tabung pengumpul udara, selang penghubung, dan masker. Udara yang masuk akan melewati media penyaring sebelum dialirkan menuju hidung pengguna.

Sistem tersebut juga dilengkapi katup satu arah atau one-way valve untuk membantu mengatur aliran udara agar udara yang diembuskan tidak kembali masuk ke dalam tabung filtrasi. Tabungnya dapat ditambahkan kompartemen es untuk membantu membuat udara yang dialirkan terasa lebih sejuk ketika digunakan di tengah kondisi panas.

Penggunaan bahan yang mudah ditemukan menjadi salah satu keunggulan rancangan ini. Tim UNS menargetkan alat tersebut dapat dirakit oleh masyarakat setempat dalam waktu kurang dari 30 menit melalui kegiatan lokakarya.

Ditujukan untuk Membantu Masyarakat Terdampak Karhutla

Pengembangan alat ini tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga kemudahan penerapannya di lapangan. Berdasarkan laporan detikEdu, tim UNS merencanakan distribusi sekitar 100 unit alat filtrasi udara di wilayah sasaran, disertai kegiatan perakitan dan pelatihan bagi masyarakat serta relawan.

Inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu upaya pendukung untuk mengurangi paparan partikel dari asap karhutla, terutama bagi petugas yang harus bekerja di luar ruangan dan masyarakat yang tinggal di kawasan terdampak.

Meski demikian, efektivitas alat tetap perlu memperhatikan hasil pengujian dan kondisi penggunaannya. Perangkat sederhana ini tidak dapat langsung dianggap setara dengan alat pelindung pernapasan yang telah memenuhi standar keselamatan.

Inovasi UNS menunjukkan bahwa riset perguruan tinggi dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Melalui pemanfaatan bahan yang mudah diperoleh dan rancangan yang relatif sederhana, teknologi ini berpotensi mendukung upaya perlindungan masyarakat dari dampak kabut asap akibat karhutla.

Baca Juga: Smart Wheelchair Inovasi Mahasiswa UMY: Solusi Mobilitas Berbasis Gerakan Mata untuk Penyandang Lumpuh Total

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *