ITS Kembangkan Alat Pendeteksi Gempa Berbiaya Rendah, Begini Cara Kerjanya!

CampusNet – Indonesia yang membentang di sepanjang jalur Ring of Fire menjadikan sebagian besar wilayahnya rentan terhadap ancaman gempa bumi.Sebagai langkah mitigasi kebencanaan, tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan inovasi alat pendeteksi gempa bumi berbasis mikrokontroler dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Teknologi ini dikembangkan secara kolaboratif oleh Departemen Teknik Elektro Otomasi dan Departemen Teknik Sipil ITS untuk memberikan peringatan dini (early warning) yang terjangkau bagi pemukiman warga.

Cara Kerja Alat Pendeteksi Gempa ITS

Perangkat inovasi ITS dirancang untuk menangkap sinyal pergerakan tanah sejak dini dan mendistribusikan data bencana secara real-time. Berikut adalah mekanisme kerja utama dari teknologi ini:

1. Deteksi Guncangan Berbasis Mikrokontroler & AI

Sensor terpasang memanfaatkan mikrokontroler presisi tinggi untuk memantau vibrasi dan pergerakan tanah.Algoritma AI yang terintegrasi bertugas menganalisis gelombang getaran guna membedakan antara guncangan gempa bumi asli dan getaran lingkungan sekitar (seperti kendaraan berat yang melintas).

2. Transmisi Data ke Aplikasi Pemantauan

Setelah sensor mendeteksi pola guncangan gempa, data parameter guncangan langsung dikirimkan secara otomatis ke aplikasi pemantauan digital.Aplikasi ini berfungsi menerima data lapangan sekaligus memetakan potensi risiko ancaman bencana di area perumahan warga.

Fitur Tambahan: Integrasi Pemantauan Banjir dan Tanah Longsor

Sistem peringatan dini yang dikembangkan ITS tidak hanya bekerja untuk bencana gempa bumi semata.Aplikasi terintegrasi ini juga dibekali modul pemantauan multisensor untuk bencana hidrometeorologi:

  • Pengukur Ketinggian Air:Memantau kenaikan debit air di sekitar pemukiman sebagai langkah antisipasi dan mitigasi bencana banjir.
  • Deteksi Pergeseran Tanah:Membantu mengidentifikasi potensi ancaman tanah longsor pada area rawan pergerakan tanah.

Keunggulan Utama: Biaya Produksi Rendah untuk Pemukiman Warga

Salah satu hambatan utama dari adopsi alat pendeteksi gempa standar industri adalah tingginya biaya produksi dan instalasi.Tim Peneliti ITS berhasil mengatasi kendala tersebut dengan beberapa nilai unggul:

  • Efisiensi Biaya:Dirancang menggunakan komponen berbiaya rendah (low-cost) tanpa mengorbankan akurasi sistem.
  • Skalabilitas Tinggi:Memungkinkan alat dipasang secara masif di perumahan penduduk atau area skala kelurahan/desa.
  • Integrasi Rumah Tahan Gempa:Dalam pengujian lapangannya, alat ini turut diuji coba bersama prototipe rumah tahan guncangan yang mengadopsi teknologi base isolator untuk meminimalkan dampak kerusakan fisik bangunan.

Harapan Implementasi Mitigasi Bencana

Inovasi dari akademisi ITS ini diharapkan dapat segera diproduksi dan diimplementasikan secara luas di berbagai wilayah rawan bencana gempa bumi di Indonesia, seperti kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan wilayah berisiko tinggi lainnya.Kehadiran jaringan sensor terjangkau ini diharapkan mampu menekan fatalitas korban jiwa serta meminimalisir risiko kerugian materi akibat bencana alam.

Baca juga: Mahasiswa UNAIR Ciptakan Alat Inovasi Pencegah Tuberkulosis, Sabet Juara di Hackathon Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok