Gabungkan Teknologi dan Psikologi, Dua Mahasiswa Untag Ciptakan Chatbot Peduli Lingkungan

CampusNet – Fadli Bilal Afifudin dan Aura Cantika Djuliandra datang dari dua dunia yang jarang bertemu. Bilal menempuh Sistem dan Teknologi Informasi semester 7, sementara Aura menempuh Psikologi semester 5. Kolaborasi lintas disiplin keduanya justru melahirkan Lestarify, gagasan chatbot lingkungan yang membawa pulang Bronze Medal dalam Jogja Essay Competition (JEC) 2026 di Universitas Gadjah Mada.

Keduanya menjadi bagian dari sembilan tim Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yang berkompetisi pada 25 hingga 26 Juli 2026. Dari sembilan tim tersebut, delapan meraih Bronze Medal dan satu tim meraih Gold Medal.

Solusi untuk Persoalan Sampah Rumah Tangga

Lestarify diusung pada subtema lingkungan. Konsepnya tidak berhenti pada pemberian informasi, melainkan dirancang agar solusi yang chatbot tawarkan memiliki basis ilmiah dan dapat pengguna terapkan langsung dalam persoalan lingkungan sehari-hari.

Gagasan tersebut berangkat dari persoalan sampah rumah tangga. Bilal dan Aura menggunakan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) dalam riset mereka, lalu melihat perlunya solusi praktis yang membantu masyarakat memahami sekaligus menangani sampah dengan lebih baik.

Bilal membawa unsur teknologi dalam pengembangan gagasan, sementara Aura memperkuat konsep melalui pendekatan psikologi, khususnya soal perilaku dan kesadaran manusia terhadap persoalan lingkungan.

Menyatukan Dua Cara Berpikir yang Berbeda

Menyatukan dua sudut pandang berbeda bukan proses yang mudah. Sebelum menggandeng Aura, Bilal sudah menyelesaikan sekitar separuh bagian paper. Ia kemudian mengajak Aura untuk memperkuat gagasan lewat perspektif psikologi.

Keduanya lantas menyesuaikan berbagai bagian, mulai dari pendahuluan, paragraf, kutipan, validasi data, hingga referensi. Tantangan terbesar muncul ketika mereka harus menyatukan perspektif teknologi dan psikologi agar gagasan tetap memiliki alur yang linear.

Perbedaan pendapat sempat mewarnai proses penyusunan. Namun keduanya menjadikan perbedaan tersebut sebagai bagian dari upaya menyempurnakan Lestarify, bukan hambatan.

Hasilnya, Lestarify dirancang agar pengguna dapat menyampaikan persoalan lingkungan yang mereka hadapi dan memperoleh alternatif solusi yang bisa langsung diterapkan. Menurut Aura, pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan perlu diimbangi pemahaman terhadap perilaku masyarakat, sehingga chatbot ini tidak diarahkan membuat pengguna bergantung sepenuhnya pada teknologi, melainkan mendorong kesadaran dan perubahan perilaku.

Bersaing dengan Kampus-Kampus Besar

Bilal dan Aura bersaing dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Airlangga, Institut Pertanian Bogor, UGM, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, dan Universitas Brawijaya.

Bagi Aura, JEC menjadi pengalaman pertamanya mengikuti kompetisi serupa. Ia sempat merasa gugup dan kurang percaya diri ketika melihat berbagai inovasi yang peserta dari kampus lain bawa.

Sementara itu, Bilal telah beberapa kali mengikuti kompetisi sebelumnya meski belum pernah mencapai babak final. Pengalaman tersebut mengajarkannya pentingnya menyesuaikan gagasan dengan tema dan subtema kompetisi.

“Dari awal saya memang ingin juara. Saya ingin membanggakan universitas, program studi, dan tim yang bekerja bersama saya,” ujar Bilal.

Harapan agar Gagasan Ini Terus Berkembang

Bilal dan Aura berharap pengalaman mengikuti JEC dapat mendorong mahasiswa lain berani mengambil kesempatan dan mengembangkan gagasan lintas bidang.

Bagi keduanya, kompetisi bukan sekadar ruang mengejar kemenangan. Kompetisi juga menjadi kesempatan mengaplikasikan ilmu perkuliahan menjadi solusi yang berpotensi memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Baca juga: Manfaatkan Energi Bersih, UNISSULA Kembangkan Inovasi Mobil Listrik Ramah Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *