CampusNet – Anak-anak dengan gangguan spektrum autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD) sering kali mengalami kondisi emosional yang intens akibat sensitivitas sensori berlebih, yang memicu terjadinya episode tantrum. Sebagai bentuk solusi solutif berbasis teknologi kesehatan, tim mahasiswa dari Universitas Brawijaya (UB) sukses merancang ADAPT-V, sebuah wearable device berupa rompi pintar otomatis untuk membantu meredakan dan meminimalisir tantrum pada anak autis.
Inovasi ini memanfaatkan metode terapi tekanan dalam atau Deep Pressure Therapy (DPT) yang dikombinasikan dengan sistem kecerdasan buatan (Machine Learning) untuk mengenali indikasi stres fisiologis secara otomatis.
Solusi Otomatis Terapi Tekanan (DPT) yang Aman
Sebelum hadirnya inovasi ADAPT-V, penggunaan terapi DPT umumnya mengandalkan perangkat manual yang membutuhkan intervensi langsung dari terapis atau orang tua.
Melalui ADAPT-V, proses pemberian tekanan penenang diatur secara otomatis oleh algoritma sistem. Rompi pintar ini dirancang untuk mendeteksi perubahan kondisi emosional pengguna secara cepat dan tidak memberikan tekanan secara terus-menerus, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan riil tubuh anak.
Cara Kerja dan Fitur Utama Rompi ADAPT-V
Pengembangan ADAPT-V menggabungkan integrasi sensor medis, mikrokontroler, dan sistem mekanis pneumatik. Berikut adalah tahap dan cara kerja dari teknologi ini:
1. Pindai Sinyal Fisiologis dan Deteksi Dini
Rompi dibekali dengan sensor presisi, yakni sensor MAX30102 untuk memantau frekuensi denyut jantung serta sensor MPU6050 untuk memetakan dinamika pergerakan tubuh anak. Data tersebut dianalisis oleh algoritma Machine Learning untuk mengidentifikasi indikasi lonjakan stres atau fase awal tantrum.
2. Respons Pengisian Kantong Udara Otomatis
Ketika sistem mendeteksi anak berada dalam fase tantrum, mikrokontroler (ESP32) akan menyalakan pompa udara (micro air pump DC) guna mengalirkan udara ke kantong-kantong khusus di dalam rompi. Efek kompresi udara ini memberikan sensasi pelukan atau tekanan menenangkan (calming effect) yang terkontrol.
3. Dekompresi Otomatis Saat Anak Tenang
Begitu sensor mendeteksi denyut jantung dan pergerakan anak telah kembali normal atau stabil, sistem katup (solenoid valve) akan terbuka secara perlahan untuk mengeluarkan udara, sehingga rompi mengempis kembali.
4. Pemantauan Jarak Jauh via Aplikasi Smartphone
Perangkat dihubungkan melalui koneksi Wi-Fi ke aplikasi pada ponsel pintar (smartphone). Hal ini memungkinkan orang tua maupun terapis memantau kondisi emosional anak serta aktivitas rompi secara real-time dari jarak jauh.
Kolaborasi Riset Lintas Disiplin Ilmu
Program riset ADAPT-V lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC). Kehadiran inovasi ini menjadi bukti suksesnya sinergi dan kolaborasi antardisiplin ilmu di lingkungan Universitas Brawijaya—meliputi bidang Teknik Elektro, Kedokteran, hingga Psikologi—dalam menghadirkan perangkat medis yang ramah, aman, dan berdaya guna tinggi bagi masyarakat inklusif.

