Muhammad Raihan Arrasyid tidak berlatar belakang ilmu kesehatan. Ia mahasiswa Psikolog Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Namun justru dari rasa penasarannya terhadap persoalan kesehatan masyarakat lahirlah Morifresh, nanospray berbahan daun moringa dan nimba yang dirancang untuk membantu penyembuhan luka diabetes.
Produk ini mengantarkan Tim Morifresh meraih Gold Medal di World Young Inventors and Innovation Exhibition (WYIE) 2026 yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 18 hingga 20 Mei 2026.
Kenapa Luka Diabetes Susah Sembuh?
Luka diabetes bukan luka biasa. Kondisi ini muncul akibat kerusakan saraf dan penurunan sirkulasi oksigen dalam darah yang disebabkan kadar gula tinggi. Hasilnya, luka menjadi sangat lambat pulih dan rentan membusuk.
Persoalan itulah yang mendorong Rasyid dan timnya merancang solusi berbasis bahan herbal. Pilihan jatuh pada daun moringa dan daun nimba, dua tanaman yang mudah ditemui dan sudah lama dikenal dalam pengobatan tradisional.
Dua Daun, Dua Cara Kerja
Rasyid menjelaskan cara kerja Morifresh melalui dua mekanisme yang saling melengkapi. Ekstrak moringa berperan sebagai antiseptik untuk membersihkan luka sekaligus membunuh bakteri penyebab infeksi.
Ekstrak nimba bekerja mempercepat penutupan luka. Kombinasi keduanya membuat Morifresh tidak sekadar membersihkan permukaan, tetapi juga mendorong proses pemulihan dari dalam.
Yang membedakan Morifresh dari antiseptik konvensional adalah ketiadaan alkohol dalam formulasinya. Alkohol memang umum dipakai sebagai pelarut, tapi justru bisa memperlambat pembentukan jaringan parut pada luka diabetes.
Alasan Memilih Nano
Tim memilih teknologi nanopartikel karena ukurannya yang lebih kecil dari partikel air membuatnya mampu menyerap ke dalam kulit lebih dalam dan lebih cepat dibanding formula konvensional.
Proses penelitian dan pengembangan Morifresh berlangsung sekitar dua bulan. Rasyid menyebut tahap penyaringan nanopartikel menjadi bagian yang paling menantang sepanjang prosesnya.
Harapan yang Melampaui Medali
Latar belakang Rasyid sebagai mahasiswa Psikologi memberi sudut pandang berbeda dalam pengembangan Morifresh. Kepeduliannya terhadap kondisi psikologis pasien diabetes yang kerap tertekan akibat luka yang tak kunjung sembuh turut mendorong semangat tim merancang solusi yang praktis dan terjangkau.
Rasyid berharap Morifresh dapat terus berkembang sebagai produk yang benar-benar menjangkau pasien diabetes, terutama di daerah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas.
Baca juga: Sampah Pasar Jadi Biogas dan Pupuk, Tim FTUI Ini Pulang Bawa Juara 1 dan Best Paper

