CampusNet – Apalah kalian pernah sadar ketika hara ponsel atau bumbu dapur tiba-tiba naik? Atau dengar kabar rupiah lagi melemah terhadap dolar? Dua hal ini ternyata memiliki korelasi antar lain. Hubungannya juga cukup erat dan berdampak ke kehidupan sehari-hari.
Jadi sederhananya, nilai tukar itu adalah harga mata uang kita dibandingkan dengan mata uang negara lain. kalau rupiah melemah terhadap dolar, artinya kita butuh lebih banyak uang untuk menukar ke satu dolar. sebaliknya, kalau rupiah menguat, kita butuh lebih sedikit uang untuk menukar dolar yang sama.
Sementara inflasi adalah naiknya harga barang dan jasa secara terus-menerus. Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) rutin mengukur inflasi lewat Indeks Harga Konsumen (IHK). Kalau di IHK naik, artinya daya beli kita sedang turun. Maka, uang yang dulu bisa beli sekilo telur, sekarang mungkin cuma cukup untuk beli setengah kilo telur.
Lalu apa hubungan rupiah dengan inflasi? Hubungannya sangat erat karena Indonesia masih banyak mengimpor barang dari luar negeri. Mulai dari minyak mentah, gandum, kedelai, sampai komponen elektronik, semuanya impor.
Begitu rupiah melemah, harga barang-barang impor ini akan otomatis jadi lebih mahal jika dirupiha-kan. Produsen dalam negeri yang pakai bahan baku impor pasti akan keberatan kalau biaya produksi naik tapi harga jual tetap. Akhirnya mereka terpaksa menaikkan harga jual produknya.
Sekarang coba bayangkan pabrik mi instan yang produksi pakai gandum impor. Kalau rupiah melemah, biaya produksinya akan membengkak. Ujung-ujungnya harga mi instan di warung ikut naik. Fenomena seperti ini dalam ilmu ekonomi disebut imported inflation atau inflasi impor.
Dampak lainnya dari pelemahan rupiah adalah barang luar negeri jadi lebih mahal dibandingkan barang lokal. Masyarakat yang biasanya beli barang impor mungkin bakal beralih untuk membeli barang lokal. Namun masalah muncul kalau barang lokal tidak memiliki persediaan yang cukup. Permintaan yang tinggi dan disandingkan dengan stok yang terbatas otomatis akan mendorong harga naik juga.
Bank Indonesia pernah mencatat, setiap pelemahan rupiah sebesar 1 persen bisa mendorong inflasi sekitar 0,05 hingga 0,2 persen dalam jangka pendek. Kelihatannya kecil, tapi kalau dikumpulkan terus-terusan dampaknya akan cukup terasa.
Contoh nyata terjadi pada tahun 2022, saat itu rupiah melemah karena suku bunga Amerika Serikat naik. Akibatnya harga minyak goreng, kedelai dan gandum melonjak drastis. Menyebabkan inflasi Indonesia menyentuh 5,95 persen pada September 2022. Yang merupakan angka tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
Sebaliknya, kalau rupiah menguat, harga barang impor biasanya jadi lebih murah. Hal ini bisa membantu menekan inflasi atau bahkan menyebabkan deflasi alias penurunan harga. Sayangnya, pelemahan rupiah lebih sering terjadi dibandingkan penguatan karena faktor internal seperti program pemerintah yang tidak tepat sasaran.
Kalau nilai tukar sudah turun Bank Indonesia biasanya tidak akan tinggal diam, mereka akan menjual dolar dari cadangan devisa untuk menstabilkan rupiah. Selain itu, Menteri Keuangan juga punya peran, beliau bisa menyesuaikan tarif bea masuk atau memberikan insentif pajak untuk industri padat karya. Tujuannya supaya produsen tidak serta-merta menaikkan harga setiap kali rupiah melemah.
Bagi kita sebagai masyarakat awam, dampaknya akan tetap terasa. Dari mulai harga bahan pokok, biaya transportasi, sampai tarif listrik bisa naik kalau rupiah melemah dalam waktu lama. Makanya penting untuk paham perihal ini dan tidak termakan orang desa tidak pakai dolar.
Intinya, nilai tukar dan inflasi itu ibarat dua saudara yang saling memengaruhi. Kalau nilai tukar stabil, inflasi cenderung terkendali, sebaliknya, kalau inflasi tinggi, rupiah juga bisa ikut tertekan. Keduanya harus dikelola bersama oleh pemerintah dan bank sentral supaya ekonomi tetap sehat dan kita tidak tertekan harga tinggi.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Biaya Kuliah Bakal Makin Mahal?

