Apa itu Bystander Effect?

CampusNet – Pernahkah kalian melihat kecelakaan di jalan namun tidak ada satu pun yang menolong? atau melihat seorang homeless dipukuli ditempat tapi hanya dilihati saja? Hal ini disebut sebagai fenomena bystander effect.

Bystander effect adalah kondisi dimana seseorang cenderung acuh kepada korban kejadian ketika berada di tengah kerumunan. Semakin banyak saksi mata di lokasi kejadian, semakin sedikit pula kemungkinan individu untuk membantu.

Kasus paling terkenal dari fenomena ini adalah kasus Kitty Genivese yang ditikam di New York pada tahun 1964. Peristiwa berlangsung selama 30 menit dan selama itu ada 38 saksi yang mendengar suara teriakannya. Namun, tidaka ada satu pun yang menolong Kitty atau bahkan menelpon polisi.

Para saksi mengira bahwa sudah ada orang lain yang bertindak dan menganggap bukan tanggung jawab mereka sebagai individu untuk menolong. Inilah yang disebut diffusion of responsibillity atau penyebaran tanggung jawab.

selain itu, faktor social proof atau kektika seseorang melihat orang lain di sekitarnya diam saja, ia akakn menganggap bahwa situasi tersebut bukan situasi darurat, yang kemudian ia meniru perilaku orang lain untuk diam.

Dua peneliti, Latane dan Darley pernah melakukan sebuah eksperimen sederhana di tahun 1968. Mereka memasukkan partisipan ke dalam ruangan yang pelan-pelan dipenuhi asap. Partisipan individual dalam ruangan melaporkan asap dalam waktu rata-rata 2 menit, sedangkan partisipan yang berada dalam ruangan bersama dua orang lain yang memang disuruh diam, melapor dalam jangka 6 menit atau bahkan tidak melaporkan asap sama sekali.

Lalu bagaimana cara mengatasi bystander effect? Langkah pertama adalah awareness bahwa hal ini dapat terjadi pada diri sendiri. Jika kalian melihat situasi darurat, segeralah bertindak dan jangan beranggapan bahwa orang lain akan bertindak.

Cobalah bertindak bahwa kalian yang harus bertindak pada suatu kejadian, dengan begitu orang lain pun akan mulai ikut bantu menolong atau kalian juga bisa menunjuk seseorang secara spesifik seperti, “Bapak berbaju abu, tolong panggilkan ambulan,” untuk mememecah efek diffusion of responsibillity.

Dalam bystander effect kita menyadari bahwa manusia cenderung bingung atau mengikuti perilaku orang lain dalam situasi yang tidak jelas, namun bukan berarti jahat. Jadi, dengan memahami fenomena ini, setiap orang bisa menjadi penolong pertama, bukan hanya sekedar observator.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok