CampusNet – Bisnis ayam petelur menjadi pilihan Anjeli Astriani, mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2023, untuk memulai perjalanan wirausahanya. Dengan memanfaatkan tabungan beasiswa sebesar Rp500 ribu, ia berhasil merintis usaha peternakan yang kini berkembang hingga memiliki ratusan ekor ayam.
Usaha bernama Bejo Farm tersebut berlokasi di Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Berbekal pengetahuan yang diperoleh selama kuliah, Anjeli mengembangkan peternakannya melalui inovasi pemuliaan ternak sekaligus pengelolaan usaha yang efisien.
Manfaatkan Ilmu Kuliah untuk Mengembangkan Bisnis Ayam Petelur
Dalam menjalankan bisnis ayam petelur, Anjeli menerapkan teknik persilangan atau crossbreeding antara ayam Elba dan ayam Mardi. Inovasi ini bertujuan menghasilkan keturunan ayam dengan karakteristik unggul dari kedua jenis tersebut.
Ayam Elba dikenal memiliki produktivitas telur tinggi dengan kemampuan menghasilkan sekitar 280 hingga 300 butir dalam setahun. Sementara itu, ayam Mardi mempunyai postur tubuh lebih besar, tetapi tingkat produksi telurnya tidak setinggi ayam Elba.
“Ayam Elba itu rajin bertelur hingga 280–300 butir setahun, tapi postur tubuhnya kecil. Sebaliknya, ayam Mardi berbadan bongsor tetapi produksi telurnya standar,” jelas Anjeli.
Melalui persilangan tersebut, Anjeli berharap dapat memperoleh keturunan ayam dengan pertumbuhan tubuh optimal untuk kebutuhan ayam potong, sekaligus mempertahankan potensi produktivitas telur pada ayam betina.
Selain mengembangkan ayam hasil persilangan, Bejo Farm juga membudidayakan ayam KUB dan Kuntara 4. Peternakan ini mampu menghasilkan sekitar 15 hingga 20 butir telur setiap hari dengan dukungan puluhan indukan produktif dan anakan ayam dari hasil penetasan sendiri.
Tekan Biaya Operasional dengan Memanfaatkan Pakan Alternatif
Salah satu tantangan dalam menjalankan usaha peternakan adalah meningkatnya harga pakan pabrikan. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Anjeli memilih memanfaatkan bahan-bahan lokal sebagai alternatif pakan ternaknya.
Bahan yang digunakan antara lain bekatul, sisa makanan hajatan yang masih layak dikonsumsi ternak, serta buah-buahan musiman seperti mangga dan jambu air. Seluruh bahan tersebut diolah menjadi pakan yang diberikan secara rutin pada pagi dan sore hari.
Strategi tersebut menjadi salah satu cara Anjeli mengurangi pengeluaran operasional tanpa sepenuhnya bergantung pada pakan produksi pabrik.
Tidak hanya memperhatikan kebutuhan pakan, Anjeli juga memanfaatkan bahan alami seperti bawang putih dan daun pepaya dalam perawatan ternaknya.
Menurut Anjeli, bawang putih digunakan untuk membantu menjaga kondisi tubuh ayam, terutama ketika terjadi perubahan cuaca. Sementara itu, daun pepaya dimanfaatkan sebagai bagian dari perawatan tradisional yang diyakininya dapat membantu mengatasi masalah cacing dan meningkatkan nafsu makan ayam.
Penggunaan bahan alami tersebut merupakan praktik perawatan yang diterapkan di peternakannya dan bukan pengganti penanganan medis oleh dokter hewan ketika ternak mengalami gangguan kesehatan.
Pasarkan Telur hingga Bibit Ayam Melalui Media Sosial
Dalam mengembangkan bisnis ayam petelur miliknya, Anjeli juga memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pemasaran.
Bejo Farm melayani pembelian secara langsung di lokasi peternakan serta menerima pesanan melalui WhatsApp dan Facebook. Produk yang ditawarkan mencakup telur konsumsi, bibit ayam berumur sehari atau Day Old Chick (DOC), hingga ayam kampung hidup.
Melalui sistem penjualan tersebut, Anjeli mengungkapkan bahwa pendapatan dari telur telah mampu menutupi biaya pakan dan kebutuhan operasional harian.
Sementara itu, keuntungan bersih peternakan diperoleh melalui penjualan bibit DOC serta ayam kampung hidup. Kondisi ini menunjukkan bahwa usahanya mulai mampu memenuhi kebutuhan operasional secara mandiri.
Meski demikian, perjalanan membangun Bejo Farm tidak selalu berjalan sesuai harapan. Anjeli pernah mengalami kerugian akibat kematian sejumlah anakan ayam saat terjadi perubahan cuaca ekstrem di wilayah Klaten.
Pengalaman tersebut mendorongnya melakukan evaluasi terhadap kebersihan kandang, sanitasi, serta sistem perawatan ayam agar kejadian serupa dapat diminimalkan.
Berawal dari Tabungan Beasiswa, Kini Bangun Peternakan Mandiri

Keputusan Anjeli menggunakan uang beasiswa sebagai modal usaha berangkat dari keinginannya untuk memanfaatkan dana yang dimiliki secara lebih produktif.
Alih-alih menghabiskan tabungan untuk mengikuti tren konsumsi, ia memilih menginvestasikannya dalam usaha peternakan yang sesuai dengan bidang ilmu yang sedang dipelajarinya.
“Kalau uang beasiswa ini habis terbuang sia-sia atau cuma FOMO ngikutin tren, apa gunanya? Mending dimanfaatkan jadi hal yang berguna seperti membangun peternakan sendiri,” ungkapnya.
Menurut Anjeli, perkembangan Bejo Farm tidak terlepas dari kedisiplinan dalam mengatur keuangan dan kemampuannya mengimplementasikan ilmu peternakan yang diperoleh selama perkuliahan.
“Pencapaian Bejo Farm ini tidak terlepas dari disiplin dalam mengelola keuangan dan penerapan ilmu yang saya dapatkan selama kuliah di Fapet UGM,” tuturnya.
Kisah Anjeli membuktikan bahwa keterbatasan modal tidak selalu menjadi hambatan untuk memulai usaha. Dengan kreativitas, pengetahuan, serta pengelolaan keuangan yang tepat, mahasiswa dapat mengembangkan peluang bisnis sejak duduk di bangku kuliah.
Melalui Bejo Farm, Anjeli juga menunjukkan bagaimana pengetahuan akademik dapat diterapkan untuk menciptakan inovasi di sektor peternakan sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi bagi generasi muda.

