CampusNet – Upaya penanggulangan penyakit Tuberkulosis (TBC) di Indonesia terus mendapatkan dorongan besar dari sektor perguruan tinggi. Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam dunia kesehatan masyarakat dengan merancang teknologi skrining TBC berbasis inovasi terapan yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Indonesia saat ini masih menjadi salah satu negara dengan beban kasus TBC tertinggi di dunia. Tantangan terbesar dalam pengentasan TBC terletak pada proses deteksi dini (skrining), terutama di daerah-daerah terpencil yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan modern seperti mesin X-ray digital maupun laboratorium tes molekuler canggih.
Hadirnya inovasi dari peneliti UGM ini diharapkan mampu menjadi solusi nyata untuk memutus rantai penularan TBC secara lebih cepat dan efisien hingga ke pelosok negeri.
Urgensi Skrining TBC di Wilayah 3T
Di kawasan perkotaan, pendeteksian TBC relatif lebih mudah dilakukan karena ketersediaan infrastruktur medis yang memadai. Namun, kondisi di wilayah 3T menyajikan tantangan yang sangat berbeda:
- Akses Geografis dan Fasilitas Terbatas: Banyak Puskesmas atau Poskesdes di daerah terpencil tidak memiliki alat rontgen paru atau laboratorium tes dahak standar.
- Biaya Pengujian yang Mahal: Pengiriman sampel dahak dari daerah terpencil ke laboratorium rujukan di kota sering kali memakan waktu lama dan biaya logistik yang tinggi.
- Keterlambatan Diagnosis: Akibat minimnya alat deteksi cepat, pasien sering kali baru terdiagnosis ketika kondisi infeksi TBC sudah memasuki tahap lanjut dan telah menularkan ke lingkungan sekitarnya.
Keunggulan dan Cara Kerja Inovasi Alat Skrining UGM
Teknologi skrining TBC yang dikembangkan oleh tim peneliti UGM berfokus pada tiga aspek utama: portabilitas, keterjangkauan biaya, dan kemudahan penggunaan oleh tenaga kesehatan di lapangan.
Berikut adalah beberapa keunggulan utama dari teknologi tersebut:
1. Portabel dan Hemat Energi
Alat ini dirancang dengan bentuk yang ringkas dan fleksibel sehingga mudah dibawa oleh petugas kesehatan saat melakukan pelacakan kasus (contact tracing) ke desa-desa terpencil. Konsumsi dayanya yang efisien memungkinkan alat beroperasi menggunakan baterai atau sumber energi terbarukan di daerah yang minim akses listrik.
2. Berbasis Teknologi Cerdas dan Cepat
Sistem ini memanfaatkan integrasi kecerdasan buatan (AI) atau analisis sinyal/citra digital untuk membantu memproses hasil pemeriksaan secara instan. Petugas kesehatan di lapangan dapat memperoleh indikasi awal risiko TBC pasien dalam waktu singkat tanpa harus menunggu hasil laboratorium berhari-hari.
3. Pengoperasian yang Ramah Pengguna (User-Friendly)
Alat ini dirancang agar dapat dioperasikan tidak hanya oleh dokter spesialis, tetapi juga oleh perawat, bidan desa, maupun kader kesehatan masyarakat setempat setelah menerima pelatihan singkat.
4. Biaya Operasional Lebih Terjangkau
Dengan menekan biaya produksi dan bahan habis pakai, teknologi inovatif ini jauh lebih ekonomis dibandingkan instrumen diagnosis laboratorium konvensional, sehingga sangat ideal untuk pengadaan layanan kesehatan publik berskala masif.
Dampak Positif Bagi Penanggulangan TBC Nasional
Pengembangan teknologi skrining TBC oleh UGM ini memberikan optimisme baru bagi pencapaian target eliminasi TBC di Indonesia. Beberapa dampak positif yang diharapkan antara lain:
- Meningkatkan Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate): Semakin banyak penderita TBC di wilayah terpencil yang terdeteksi secara dini.
- Mencegah Penularan Luas: Pengobatan dapat segera dimulai begitu pasien terindikasi positif, sehingga menekan risiko penularan di tingkat komunitas.
- Pemerataan Akses Kesehatan: Mewujudkan keadilan sosial di bidang kesehatan dengan memastikan masyarakat di wilayah 3T mendapatkan kualitas pelayanan deteksi dini yang setara dengan wilayah perkotaan.
Kesimpulan
Inovasi teknologi skrining TBC untuk wilayah 3T buatan peneliti UGM merupakan bukti nyata kontribusi akademisi dalam menjawab tantangan riil kesehatan masyarakat Indonesia. Dengan alat deteksi dini yang praktis, cepat, dan terjangkau, langkah menuju Indonesia Bebas TBC di masa depan menjadi semakin realistis untuk dicapai.
Baca juga: Vocasignora: Inovasi AI Mahasiswa Undip, Jembatan Komunikasi Baru bagi Penyandang Disabilitas

