CampusNet – Akhir-akhir ini masyarakat sering mengeluh tentang harga bahan pokok yang kian merangkak naik. Minyak goreng, gula, kedelai, hingga tepung terasa semakin mahal di pasaran. Ternyata kenaikan ini memiliki hubungan erat dengan nilai tukar rupiah yang sedang melemah.
Apa hubungannya? Bukannya rakyat desa tidak pakai dolar? Nyatanya Indonesia masih banyak mengimpor banyak bahan pokok dari luar negeri. Contohnya, kedelai untuk tahu dan tempe, gandum untuk mie dan roti, serta minyak mentah untuk minyak goreng, meskipun Indonesia memiliki lahan sawit yang melimpah.
Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika, maka harga barang-barang impor ini otomatis ikut naik. Mengapa demikian? Karena untuk membeli barang yang sama, importir sekarang harus membayar dengan lebih banyak uang rupiah.
Para importir juga tidak mau menanggung kerugian sendiri, kan? Mereka pasti akan membebankan kenaikan biaya ini kepada konsumen. Hasilnya, harga kedelai, gandum dan minyak mentah di pasar dalam negeri pun jadi melonjak.
Para produsen tahu, tempe, mie instan,dan minyak goreng pun jadi ikut tertekan. Biaya produksi mereka kian membengkak karena bahan baku impor menjadi lebih mahal. Untuk tetap bisa bertahan, mereka terpaksa menaikkan harga jual produk mereka ke konsumen.
Contoh nyata pernah terjadi pada tahun ini, 2026. Rupiah kian melemah, bahkan sampai menyentuh 18 ribu terhadap dolar. Akhirnya harga minyak goreng, kedelai dan gandum langsung meroket di pasaran
Tapi bukan hanya barang mentah yang terkena dampak. Biaya transportasi juga ikut naik karena harga bahan bakar minyak (BBM) juga dipengaruhi oleh nilai tukar. Karena Indonesia mengimpor sebagian besar kebutuhan BBM-nya, sehingga ketika rupiah melemah, harga BBM pun ikut melambung.
Nah, kenaikan BBM ini kemudian berdampak ke semua sektor. Dari mulai petani yang membayar ongkos lebih untuk pupuk dan solar, sampai para pedagang yang harus merogoh kocek lebih dalam untuk ongkos kirim barang dagangan mereka.
Pada akhirnya, semua biaya tambahan ini kembali lagi ke pundak kita sebagai konsumen. Harga beras, cabai, bawang, telur dan bahan pokok lainnya ikut naik meskipun sebagian besar diproduksi di dalam negeri. Semua karena efek domino dari pelemahan rupiah.
Lalu apakah pemerintah hanya diam saja? Tentu tidak. Bank Indonesia biasanya turun tangan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Caranya dengan menjual dolar dari cadangan devisa atau menaikkan suku bunga acuan.
Pemerintah juga bisa melakukan operasi pasar untuk menekan harga bahan pokok. Mereka menyediakan barang dalam jumlah besar dengan harga lebih murah agar harga di pasaran tidak terlalu melambung tinggi. Sayangnya, cara ini tidak selalu berhasil dalam jangka panjang.
Kita sebagai masyarakat juga bisa melakukan beberapa hal untuk mengurangi dampak dari pelemahan rupiah. Misalnya, dengan mengurangi konsumsi barang impor dan mulai beralih ke produk lokal yang lebih terjangkau.
Kita juga bisa lebih bijak dalam berbelanja. Jangan melalukan panic buying karena justru akan memperparah kelangkaan dan kenaikan harga. Cukup beli sesuai kebutuhan saja.
Namun solusi jangka panjangnya tentu mengurangi ketergantungan terhadap impor. Yang mana pemerintah perlu mendorong produksi dalam negeri agar kita tidak terlalu rentan terhadap gejolak nilai tukar. Tapi untuk saat ini, yang bisa kita lakukan adalah lebih bijak dalam mengatur keuangan dan tidak panik menghadapi kenaikan harga.
Baca Juga: Pakar Unair Beberkan Penyebab Rupiah yang Terus Merosot!

