Mahasiswa ITS Kembangkan Nanopestisida Pintar yang Tahan Hujan dan Paparan Sinar UV

CampusNet – Penggunaan pestisida tradisional pada sektor pertanian di Indonesia sering kali menghadapi kendala efisiensi akibat faktor cuaca ekstrem. Curah hujan yang tinggi rentan meluruhkan cairan pestisida sebelum diserap tanaman, sementara paparan sinar ultraviolet (UV) yang terik dapat mempercepat degradasi senyawa aktifnya. Akibatnya, petani terpaksa melakukan penyemprotan berulang yang memicu pemborosan biaya serta potensi pencemaran lingkungan.

Menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa dari Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan sebuah terobosan mutakhir di bidang agrokimia. Mereka sukses mengembangkan DNF@S-MSN-CS, sebuah formula smart delivery pesticide (pestisida pintar) berbasis teknologi nano yang dirancang khusus agar tahan terhadap luluhan air hujan dan degradasi sinar UV.

Mengenal Formulasi DNF@S-MSN-CS Buatan ITS

Inovasi canggih ini digarap oleh tim mahasiswa Fakultas Vokasi ITS, di antaranya Putri Mulia Hafiy Dzikrullah dan Itsar Aristo Trinova. Mereka memanfaatkan kecanggihan teknologi nano untuk memodifikasi struktur penghantar agen pengendali hama.

Nama DNF@S-MSN-CS merujuk pada formulasi material penyusunnya yang bertindak sebagai matriks pelindung pintar. Dengan memadukan material berpori berskala nano (nanopartikel) dengan sistem pelapis khusus, zat aktif pestisida dapat terperangkap dengan aman di dalam inti material. Sistem ini memungkinkannya bekerja menggunakan mekanisme pelepasan terkendali (controlled-release system).

Keunggulan Utama Nanopestisida Pintar ITS

Dibandingkan dengan produk pestisida konvensional yang beredar di pasaran, inovasi smart delivery pesticide milik mahasiswa ITS ini menawarkan tiga keunggulan mekanis utama:

1. Memiliki Sifat Tahan Hujan (Rainfastness)

Pestisida biasa umumnya langsung hilang atau larut terbawa air jika hujan turun sesaat setelah penyemprotan. Namun, formulasi nano DNF@S-MSN-CS memiliki daya rekat yang jauh lebih kuat pada permukaan daun tanaman, menjadikannya tidak mudah luruh oleh air hujan.

2. Perlindungan dari Degradasi Sinar UV

Sinar matahari yang terik dapat merusak struktur kimia pestisida tradisional, mengurangi efektivitasnya dalam membasmi hama secara drastis. Enkapsulasi teknologi nano pada inovasi ITS ini berfungsi sebagai tameng yang melindungi senyawa aktif dari paparan sinar UV, sehingga masa aktif pengendalian hama bertahan jauh lebih lama.

3. Sistem Pelepasan Pintar Terkendali

Formula ini tidak melepaskan racun secara sekaligus, melainkan secara perlahan dan bertahap (smart delivery). Zat pembasmi hama hanya akan keluar sesuai dengan target dosis yang optimal, memastikan perlindungan tanaman berjalan konisten dalam jangka waktu yang panjang.

Dukungan Terhadap Lingkungan dan SDGs

Inovasi nanopestisida ini tidak sekadar mengejar efektivitas kerja, tetapi juga sangat berorientasi pada aspek kelestarian lingkungan. Kepala Seksi Pelayanan Teknis Unit Pelaksana Teknis Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPT PTPH) Provinsi Jawa Timur, Ari Ika Sari, S.P., M.Agr., menyambut antusias kehadiran riset ini. Menurutnya, teknologi ini sangat potensial memangkas penggunaan bahan kimia berlebih di lahan pertanian.

“Minimnya frekuensi dan kuantitas penggunaan pestisida tentu dapat mengurangi dampak buruk akumulasi residu kimia terhadap lingkungan sekitar,” ungkap Ari.

Langkah riset mahasiswa ITS ini juga dinilai sangat linier dengan pencapaian agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:

  • SDGs Poin 12: Mempromosikan pola Produksi dan Konsumsi yang Bertanggung Jawab melalui efisiensi bahan kimia pertanian.
  • SDGs Poin 15: Menjaga ekosistem daratan dengan meminimalkan pencemaran tanah dan sumber air akibat limpasan pestisida.

Langkah Menuju Uji Komersial

Keberhasilan formulasi DNF@S-MSN-CS dalam uji skala laboratorium dan pengamatan langsung pada serangga uji di daun tanaman membawa optimisme besar bagi dunia pertanian tanah air.

Dosen pembimbing beserta tim peneliti berharap inovasi ini tidak berhenti sebagai laporan ilmiah akademis semata. Saat ini, tim Fakultas Vokasi ITS tengah mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk membawa produk ini menuju tahapan uji komersial skala luas. Diharapkan dalam waktu dekat, nanopestisida pintar ini dapat diproduksi secara massal guna membantu para petani lokal meningkatkan hasil panen secara aman, ekonomis, dan ramah lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok