CampusNet – Penyakit malaria hingga kini masih menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang serius, terutama di wilayah-wilayah endemik di Indonesia. Menjawab tantangan nyata tersebut, sekelompok mahasiswa berprestasi lintas disiplin dari Universitas Airlangga (Unair) sukses menciptakan sebuah inovasi mutakhir bernama Malaiscope, sebuah alat portabel yang dirancang untuk mendeteksi dini penyakit malaria secara lebih cepat, akurat, dan efisien.
Inovasi ini lahir dari kolaborasi solid tim mahasiswa Unair yang terdiri dari Stefanus Adi Nugraha, Stefanus Adi, Rani Dwi, Mutia Nastiti, Habib Aulia, serta menggandeng mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Ardhia Hanindya. Kombinasi keahlian interdisipliner ini berhasil melahirkan solusi konkret bagi penanganan screening malaria yang selama ini kerap terkendala fasilitas laboratorium di daerah terpencil.
Apa Itu Malaiscope dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Malaiscope adalah perangkat portabel yang dirancang khusus untuk melakukan identifikasi awal terhadap keberadaan parasit penyebab malaria (seperti Plasmodium) langsung dari sampel darah pasien.
Dengan menggabungkan prinsip optik modern dan sistem analisis digital, alat ini mampu memangkas waktu diagnosis secara signifikan jika dibandingkan dengan uji mikroskopi manual di laboratorium konvensional. Desainnya yang ringkas dan ergonomis membuat Malaiscope sangat potensial untuk digunakan sebagai alat point-of-care testing (POCT) oleh tenaga kesehatan di garis depan.
Keunggulan Strategis Malaiscope Karya Mahasiswa Unair
Dibandingkan dengan metode pemeriksaan malaria standar, inovasi yang digagas oleh Stefanus Adi Nugraha dan tim menawarkan beberapa keunggulan utama:
- Kolaborasi Lintas Ilmu: Keterlibatan Ardhia Hanindya dari FISIP memperkuat aspek pendekatan sosial dan kebijakan publik, memastikan alat ini tidak hanya canggih secara teknis tetapi juga adaptif saat diimplementasikan ke masyarakat.
- Portabilitas Tinggi: Ukurannya yang ringkas memudahkan petugas kesehatan untuk membawanya langsung ke lapangan atau wilayah pelosok (remote areas).
- Efisiensi Waktu: Proses deteksi berjalan jauh lebih cepat, sehingga pasien yang terindikasi positif bisa mendapatkan penanganan medis sesegera mungkin guna mencegah komplikasi fatal.
- Akurasi yang Dioptimalkan: Mengurangi risiko kesalahan manusia (human error) dalam pembacaan sampel sel darah melalui integrasi sistem digital.
Mendukung Penuh Target Eliminasi Malaria di Indonesia
Inovasi Malaiscope ini tidak hanya menjadi bukti nyata dari kreativitas akademis mahasiswa Unair, tetapi juga menjadi angin segar bagi program pemerintah dalam mengakselerasi target Eliminasi Malaria di Indonesia.
Melalui alat deteksi dini yang bersifat portabel dan cepat, rantai penularan malaria di komunitas dapat diputus lebih awal. Tim mahasiswa Unair berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan ke tahap komersialisasi dan mendapat dukungan penuh dari sektor industri serta Kementerian Kesehatan untuk pengujian skala besar di berbagai wilayah endemik.

